18 5 / 2012
Duh! Nabrak tembok Berlin
Vili si Kucing pintar dan Milly si Burung cerdas tak sengaja bertemu di sebuah Gereja di Kota Berlin. Mereka adalah sahabat lama yang sudah lama tidak berjumpa. Keduanya saling bercengkrama di pagi itu dan saling bercerita satu sama lain tentang kegiatan sehari-hari mereka.
“Wah.. kamu sekarang punya sayap yang lebar sekali” Kata Vili.
“Kamu sekarang juga punya kumis yang panjang” sahut Milly.
“Iya dong, kamu tau tikus aja takut, lari terbirit-birit hanya melihat kumisku” Sambung Vili.
“Oh ya? hebat sekali kau. Aku sekarang juga bisa terbang menembus tembok Berlin”
“Wah burung sekecil kamu bisa menembus tembok Berlin? Hahahaha tidak mungkiiin..”
“Ah kamu tak percaya, mari aku tunjukkan!”
Akhirnya mereka berdua menuju dekat tembok Berlin untuk membuktikan perkataan Milly.
“Hey Milly ayo silahkan kau terbang!”
Setelah itu Milly pun terbang, inginnya dia menembus tembok Berlin yang tengahnya bolong. Tapi orang-orang telah menutup lubangnya sehingga sudah tidak bisa dilewati oleh Milly.
“BRAAAK…tuing..tuing..”
“Hahahahaha…katamu bisa menembus tembok Berlin, sekarang kamu tersungkur ke tanah”
“Ah… sial, naas aku hari ini”
Mereka berdua pun tertawa bersama, melewati waktu bersama di pagi yang cerah di Kota Berlin.
30 4 / 2012
Kucing Loreng dan Kucing “Plain”
Pada suatu hari kucing loreng berjalan menyusuri tepi sungai Seine. Sungai Seine saat itu sangat ramai oleh perahu-perahu yang berlalu lalang. Kucing loreng ini bertempat tinggal didekat menara Eiffel, sehingga setelah ia berkelana di kota Paris ia harus melewati sungai Seine untuk pulang. Hari itu sedang musim panas, sehingga banyak warga yang sedang menikmati suasana hangat matahari sore itu.
Tiba-tiba ada suara dari kejauhan,
“Hey Loreng, kemarilah aku punya berita gembira” ternyata kucing Plain memanggil
“Ada apa Plain, berita tentang apa?”
“Tengah musim panas nanti ada kontes Kucing Favorit di dekat Hall Kota, aku rasa kita cukup keren untuk mengikutinya”
“Ah tidak, aku hanya kucing Loreng biasa yang tak mempunyai keahlian apa-apa”
“Hey kamu cukup berbakat untuk mengikuti ini, bulu-bulu kamu cukup cantik, sedangkan aku kucing Plain yang tak mempunyai warna apa-apa dalam bulu-buluku”
“Ah sudahlah, mungkin yang ikut itu hanya kucing kaum bangsawan”
“Kamu tidak boleh berkecil hati seperti itu, kita ini belum berjuang, mendingan kita tahu kalau kita kalah karena sudah mencoba, daripada kita kalah akibat pikiran kita sendiri karena belum mencoba”
“Oke baiklah” Akhirnya kucing Loreng menyetujui.
30 3 / 2012
Rain Sonata (7) And it’s Love..
Dear Allahku..
Aku menyadari kalau hati ini mudah terkena tipu daya syaitan.
Ketika kebimbangan menggelayuti Engkau selalu hadir mengisi relung-relung jiwaku.
Ketika ada lubang didalam hati ini terisi noda hitam pekat, Engkau telah menyelamatkanku untuk membersihkannya didalam hatiku ini.
Engkau sungguh mencintaiku, padahal aku terkadang lupa padaMu
Ketika aku tak tahu harus mencintai siapa, Engkau menjagaku, menjaga hatiku agar tidak mencintai orang yang tidak semestinya kucintai.
Ketika aku tak tahu jalan yang harus kutempuh, Engkau membimbingku menerangi jalanku untuk tetap selalu berada didalam jalan yang engkau Ridhoi.
Disaat aku terlupa, dan aku sangat bingung menyusun impian-impian dan harapan, Engkau selalu hadir menggerakkan tanganku untuk selalu menuliskan namaMu didalam setiap tujuan hidupku.
Sehingga dalam perjalananku di dunia ini, aku merasakan kehangatanMu yang selalu menemaniku
Engkau menitipkan rasa nyaman dihati ini ketika dalam kondisi apapun
Ketika tidak ada seorangpun yang bisa aku jadikan sandaran, Engkau selalu hadir menjadi sandaranku.
Sungguh Maha Besar Engkau yang telah menciptakanku sedemikian rupa.
With love,
Devi Seftianingrum
05 3 / 2012
Rain Sonata (6) Garis waktu
Garis waktu telah merekam jejak-jejak kita. Suka, senang, tertawa, bahagia, benci, kecewa, sedih, menangis. Semuanya diantara kita. Tersadar bahwa kita telah membuang banya waktu untuk bisa mengakui perasaan kita masing-masing. Dan kita selalu meragu. Kesempurnaan yang kita cari pada diri kita masing-masing tak kan pernah ditemukan. Dan lagi-lagi kita hanya akan membuang-buang waktu.
Mimpi-mimpi kita masing-masing telah menenggelamkan kita. Setan mungkin telah membisikkan ditelinga kita untuk terus mengejar mimpi-mimpi yang nyaris mungkin tak bermakna untuk hidup kita. Setan telah membisikkan alam masa depan seperti ini dan itu kepada hayalan kita, namun kita sendiri tak tersadar bahwa esok mungkin kita tak bernafas lagi.
Dan lagi-lagi kita hanya tenggelam dalam angan-angan kosong yang tak pernah berujung. Tergerus arus zaman yang semakin melenakan diri kita berdua. Ketika aku berusaha untuk menghampirimu, namun kau ada dengan wajah yang seakan berkata, kembalilah lagi padaku ketika kau telah sempurna.
Hingga pada akhirnya kita hanya saling menunggu kesempurnaan satu sama lain yang tak kan pernah terwujud kesempurnaan itu.
28 1 / 2012
Rain Sonata (5) ……
Dear seseorang,
Saat itu aku sedang belajar, membuka laptopku, mencari topik dan tema untuk bahan yang akan kupelajari. Sampailah pada saat dimana mesin pencari yang aku gunakan merekomendasikan dirimu. Dan saat itu aku tak mengenal siapa kamu. Dan sampai sekarang aku juga masih belum mengenal sosok dirimu yang sebenarnya meski sejak saat itu kita telah mengenal. Dan aku ingin mengenalmu tanpa melalui sekotak kaca berukuran kurang lebih 20 sentimeter.
Dari seseorang.
08 12 / 2011
Rain Sonata (4) Langit
“Brumm…Brummm…Bruuuuuummmmm”
“Kayaknya akhir-akhir ini emang harus rajin puk-puk diri sendiri deh gara-gara suara bising”
“Halah kamu tuh sok tenang banget sih jadi orang, rempong tau!” Lia mengomel dengan sangat manis.
Kami berdua pun melanjutkan baca buku dibalkon lantai 7. Ya, dibalkon. Memang ini bukan tempat untuk membaca buku, namun buku hanya pajangan belaka untuk aku bisa menatap langit. Aku sangat suka memandang langit, mengagumi keindahan dan misteri keluasannya. Meski aku nggak seberapa “ngeh” sama astronomi dan kawan-kawannya, tapi dengan menatap langit seakan aku dapat melihat betapa kecilnya diriku, dan betapa sempurnanya Allah menciptakan semesta ini. Memandang awan yang berjalan dan kelembutannya seperti kapas, dan saat malam hari semburat dengan cahaya bintang, meteor, komet, ahh… semuanya membuatku kagum. Dengan memandang langit seakan permasalahan didunia ini sungguh amat kecil, supeeerrrr kecil banget, seperti debu yang terbang begitu saja.
(bersambung)
13 11 / 2011
Rain Sonata (3) Lamunanku
“I know what you want to say, but I don’t want to hear it…..”
Iya memang. tidak semua hal patut didengar. Ini dimana saat hanya ingin mendengar suara hati saja. Egois. Tapi ini cara untuk mengobati luka hatiku.
“Hey, kamu ngapain disitu? sapa Lia dengan menepuk bahuku”
“Lagi membunuh waktu aja sambil mbaca komik, hehe. 15 menit lagi ada pengajian jadinya nunggu aja disini. Kamu darimana?”
“Idihh, ini serambi masjid kok malah baca komik, yang dibaca tuh Al-Matsurat kek, buku2 islami kek, itu malah yang dibaca Komik, terus apa itu sampingnya komik, buku musik, ihhh” Lia mengomel dengan nada yang halus.
“Lha gak ada tulisan dilarang baca komik atau dilarang baca buku musik didalam Masjid kok, hehehehe” Aku membalas dengan bercanda.
Jadi berpikir juga ngapain aku buang-buang waktu membaca komik, sedangkan tiap detik nanti di akhirat akan dipertanggungjawabkan dibuat apa didunia? Masya Allah….
Pengajian akhirnya dimulai. Aku mengikuti dengan seksama pelajaran Tajwid bab demi bab. Aku sangat mengagumi keindahaan bacaab dengan tartil dan tilawah. Beruntung bisa menyempatkan waktu untuk mengikuti pengajian ini, ditengah kesibukan praktikum, tugas, dan hafalan istilah-istilah kedokteran yang membayangiku.
(bersambung)
Permalink 5 notes
29 10 / 2011
Rain Sonata (2) Instant Messaging
“Jreng..jreng..jreng..Bengawaaan solooo….”
“Doh fales banget mas, nih cepetan pergi semakin pusing aku lama2 ngedengerinnya.” aku mengomeli pengamen yang mengganggu dinnerku di sebuah warung PKL dekat kampus. Mendadak moodku kacau balau dan campur aduk. Ahh mungkin ini efek PMS. Yah gak seharusnya aku ngomelin pengamen sih.
Dirumah tergantung beberapa catatan kecil nempel di dinding. Oke malam ini bakal begadang. Besok kuis farmakologi. Ya, ini memang sesuatu sekali. Besok setelah kuliah ada latihan lagi.
Rasanya desperate sekali aku melanjutkan mimpiku untuk bisa main di orchestra. Tapi aku ingat kata-kata salah satu seseorang,
Bila itu mimpimu maka wujudkanlah, karena kamu tidak akan bisa mewakilkan kepada orang lain untuk mewujudkannya
Iya benar sekali kawan, mungkin aku yang super kemaruk ingin jadi dokter, ingin bisa ini, ingin bisa itu, ingin menguasai ini, ingin menguasai itu. But I see my life it just not like others. Aku harus bisa memberikan arti setidaknya ini untuk hidupku.
“dreet..dreet…Dewi apa kabar?”
Tiba2 ada seseorang yang mengirimku sms. Dan arghhh.. kenapa dia selalu ingin tau keberadaanku? Disisi lain aku berusaha untuk tidak memikirkannya walau sering juga memikirkannya. Aku sangat menjaga hatiku ini agar tidak jatuh kepada orang-orang yang hanya mempermainkan perasaan. Datang dan pergi begitu saja.
(bersambung)
22 10 / 2011
Rain Sonata (1) Perpustakaan
Tak ada yang tau apa yang akan terjadi esok. Hidup adalah menunggu. Menunggu akan tercapainya harapan dan terpenuhinya ekspektasi yang diciptakan oleh manusia itu sendiri. Sahabat satu persatu menghilang dan menempuh jalan masing-masing seiring berjalannya waktu. Ya, memang kita semua akan menempuh jalan sendiri-sendiri, dan akan benar-benar sendiri.
“Dih, ngelamun aja” Sapa Gabriela sambil menepuk bahuku dari belakang.
“Hehehe” Aku hanya ketawa tak berisi.
Kami berdua kembali ke dunia kuliah masing-masing. Aku mengerjakan tugas Farmakologiku, Gabriela mengerjakan tugas Hukum Pajaknya. Seperti biasa, sambil duduk-duduk di perpustakaan kesayangan. Aku dan Gabriela berteman semenjak SMP dan hingga kuliah pun kami tetap akrab. Ya, memang mungkin aku tak bisa bergaul, dan hanya mempunyai beberapa gelintir teman saja.
“Afifah Dewi Kusumawati, dimohon agar ke bagian informasi!” Mendadak speaker perpustakaan memanggil namaku. Pikiran mulai berpikir macam-macam. Bergegas menuju sumber suara.
“Saya Dewi bu, ada apa bu ya?” Tanyaku pada petugas perpustakaan
“Ini dompet kamu bukan? Masih lengkap ada KTM, KTP, ATM dan yang lainnya” Jawab petugas perpustakaan.
Dompet yang telah lama hilang kini dia telah kembali…. *sambil nyanyi dengan mata bersinar*.
————————————————-
“Kenapa sih kamu mainnya fales gitu!” Celoteh sang concert master padaku.
“Lagu ini bernada dasar C. Dan start lagu ada di posisi 3. Tadi abis mainin di nada dasar G jadinya belum balik jariku” Aku berusaha ngeles. Diana adalah seorang pemain biola handal, dia sudah ikut ujian Royal grade 8. Sosok yang keras, disiplin dan dimataku dia angkuh.
Tiga bulan lagi akan diselenggakan konser Four season. Yang akan membawakan lagu-lagu dari Jaman Barouq hingga Modern. Melihat konsepnya aja udah bikin maju mundur mau ikutan apa nggak. Tugas-tugas kuliah berseliweran serta praktikum yang tak kunjung berhenti. Udah deh anak kedokteran nggak usah ngimpi ikutan konser besar. *Dalam hati berkata seperti itu*.
——————————————
[bersambung]
Permalink 8 notes
18 10 / 2011
"Experience is not what happens to you. It is what you do with what happens to you"



